KEPANJANGAN JABODETABEK PART II


ASAL USUL DEPOK
Di dalam Wikipedia, disebut secara etimologi nama Depok/Depoc berasal dari akronim organisasi Kristiani yang didirikan Cornelis Chastelein: De Eerste Protestante Organisatie van Christenen. Wikipedia mengutip dari tulisan Tasa Nugraza Barley berjudul ‘The Forgotten Bule Depok’ yang diupload tanggal 22 September 2014. Tidak diketahui dari mana sumbernya bahwa nama Depok sebagai akronim.

Salinan testamen Cornelis Chastelein ( JN Grimmiu, 1852)
Asal-usul nama Depok berbeda dengan asal usul Batavia, Preanger dan Buitenzorg. Nama Batavia merupakan nama region/wilayah di Belanda bagian utara tempo doeloe, sementara nama Preanger mengacu pada penyebutan orang Belanda untuk orang Priangan, sedangkan Buitenzorg bermula dari penyebutan region/wilayah tempat peristirahatan di luar kota (buiten dan zorg). Nama Depok sendiri adalah nama yang diadopsi dari nama asli. Depokker merujuk pada orang-orang pribumi, pewaris Cornnelis Chastelein di Land Depok (lihat Depok en de Depokker: Eene Bijdrage tot de Kennis van Inlandsche Christenen op Java door JN Grimmius, 1852).

Depok adalah Nama Asli

Nama Depok adalah nama asli, bukan singkatan. Disebut asli karena pemberian nama Depok muncul dari orang asli. Nama-nama asli memang sulit dilacak asal-usulnya. Faktanya nama-nama asli sudah disebut sejak lama. Nama tetangga Depok yang sudah sejak lama eksis adalah Mampang, Pondok Tjina dan Pondok Terong.

Orang asing (Eropa/Belanda) sangat memerlukan nama asli, karena nama asli adalah penanda navigasi di daratan, nama-nama tempat yang sudah eksis sejak lama. Orang-orang asli (baca: pribumi) sudah lebih awal menggunakan nama tempat, nama situs atau nama geografis (gunung, sungai dan lainnya) sebagai penanda navigasi.  

Nama Depok dan Mampang sepintas sulit dipahami artinya. Hal ini berbeda dengan nama Pondok Tjina dan Pondok Terong lebih mudah dipahami. Nama-nama yang sulit dipahami cenderung diperdebatkan: bagaimana nama-nama tersebut bermula.

Cornelis Chastelein: Membeli Lahan di Depok

Depok dikenal karena kehadiran Cornelis Chastelein. Ketika pejabat VOC ini membeli lahan di Mampang dan Depok, dokumen yang tersimpan di Batavia menyebut lahan tersebut dengan batas-batas tertentu berada di Depok dan Mampang (Bataviaasch nieuwsblad, 27-06-1929). Dalam testamen yang dibuat Cornelis Chastelein tanggal 13 Maret 1714 sebelum kematiannya tanggal 28-06-1714 secara eksplisit lahan yang diwariskan letaknya dimana dan luasnya berapa (lihat Depok en de depokkers, 1852). Wasiat Cornelis Chastelein baru diumumkan pada tanggal 24 Juli 1714 (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, edisi 28-06-1929).  

Peta hulu Tjiliwong, 1724
Nama Depok juga telah disebut dalam laporan ekspedisi yang dilakukan oleh Abraham van Riebeek tahun 1703 yang melalui rute sisi barat sungai Tjiliwong: Tjililitan, Tandjong, Pondok Tjina, Depok, Pondok Terong, Bodjonggede, Tjiliboet dan Paroeng Angsana. Nama-nama tempat tersebut sudah diidentifikasi pada Peta 1724. Pada saat ekspedisi Abraham van Riebeek ini lahan terjauh di sisi barat sungai Tjiliwong yang diusahakan di hulu sungai Tjiliwong baru sejauh Sringsing [kini Lenteng Agung]. Yang mengusahakan lahan Sringsing tersebut adalah Cornelis Castelein.

Lahan-lahan yang ditinggalkan Cornelis Chastelein yang diwariskan kepada tenaga kerjanya sebagaimana disebut dalam testamen diakuir pemerintah pada tahun 1871. Ini bermula ketika Spoorweg Maatschappij akan mengakuisisi lahan untuk pembangunan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg di ruas Depok. Pemerintah melalui Pengadilan Tinggi memutuskan bahwa lahan-lahan milik pewaris Cornelis Chastelein di Mampang dan Depok. Pengadilan Tinggi juga memutuskan konpensasi diberikan kepada pewaris berdasarkan testament yang dibuat pada tanggal 13 Maret 1714 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 12-01-1874).

Hal yang penting dalam testamen ini Cornelis Chastelein menginginkan di lahan-lahan yang diwariskannnya dibentuk/dijadikan sebagai tempat Kristen (Christen-negorij) yang baru. Wasiat ini tampaknya dituruti oleh para pewarisnya.

Kampong Asli

Wilayah sepanjang sungai Tjiliwong bukanlah daerah kosong, melainkan wilayah yang populasinya sangat ramai sejak era Padjadjaran mulai dari Pakwan (Buitenzorg/Bogor) hingga Soenda Kalapa (Batavia/Jakarta). Dikatakan ramai, jika dibandingkan dengan populasi wilayah lain di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Berdasarkan pencatatan penduduk 1861, wilayah hulu sungai Tjiliwong (yang kemudian disebut afdeeling Buitenzorg) saja, jumlah penduduknya ditaksir sudah lebih dari 350.000 jiwa (suatu angka yang besar di masa lampau).

Luas wilayah yang sempit dan jumlah penduduk yang sangat besar mengindikasikan jumlah pemukiman (perkampungan) yang sangat banyak. Suatu perkampungan yang ada saat itu hanya terdiri dari beberapa rumah. Setiap perkampungan memiliki nama sendiri-sendiri. Antara satu kampung dengan kampung lain terhubung dengan jalan-jalan setapak yang membentuk jaringan wilayah tradisional yang bisa kita bandingkan dengan jaringan tempat-tempat tinggal (kampung atau perumahan) pada masa sekarang ini. Jaringan wilayah tradisional itu terbentuk karena antara lain sebab hubungan perkawinan (sosial), pertukaran (ekonomi), tradisi keagamaan dan pertahanan.  

Pada saat Cornelis Chastelein memulai membuka lahan di hulu sungai Tjiliwong, wilayah lahan (land) yang dibelinya dari penguasa lokal yang disahkan secara hukum oleh VOC memiliki batas-batas tertentu (saat itu batas-batas ditentukan oleh alam seperti sungai, bukit atau danau). Pembelian yang dilakukan di dalam batas-batas lahan (land) ini meliputi bumi (daratan) dan air (sungai dan danau) termasuk isinya: tumbuhan, tanaman, mineral, ikan dan bahkan penduduk yang bertempat tinggal di lahan tersebut.

Terminologi yang muncul kala itu dalam bahasa Belanda untuk menunjukkan suatu wilayah dengan batas-batasnya dianggap sebagai zoo. Di dalam zoo ini termasuk manusia (dalam hal ini penduduk pribumi) hanya dianggap sebagai mahluk yang nilainya setara dengan hewan (politik rasial kala itu sangat kental).

Oleh karenanya, Land Depok yang menjadi hak kepemilikan pribadi Cornelis Chastelein bukanlah area kosong, bahkan nama Depok sendiri adalah nama suatu pekampungan awal (yang entah dimana posisi ‘gps’nya di land tersebut. Disebut kampong Depok, karena nama-nama tempat utama yang diidentifikasi sebagai penanda navigasi saat itu adalah nama tempat hunian penduduk yang namanya sudah dikenal luas di sekitar.

Nama-nama Pondok Tjina, Depok, Ratoe Djaja, Mampang dan Pondok Terong adalah penanda navigasi utama. Nama-nama penanda navigasi atau perkampungan inilah yang kemudian area (land) yang diperjualbelikan, landnya diberi nama.

Di Land Depok, selain nama kampong Depok sudah eksis, juga diduga sudah eksis nama-nama kampung lain seperti Pitara (dari nama Hindoe), Paroeng Blimbing, Paroeang Serab, Paroeng Melela dan lainnya. Terminologi paroeng mengindikasikan penanda navigasi untuk menunjukkan perkampungan yang muncul dimana ada penyeberangan sungai yang sempit (yang ditandai dengan adanya jembatan bamboe).
Kampong Depok dan Landhuis Depok

Kampong Depok dan Landhuis Depok adalah dua tempat yang berbeda. Tidak pernah diceritakan atau dilukiskan dimana lokasi Kampong Depok dan dimana Landhuis Depok. Kampong Depok adalah lokasi dimana penduduk asli bermukim, sedangkan Landhuis Depok adalah lokasi yang dipilih oleh Cornelis Chastelein sebagai pusat kegiatannya.

Sumber informasi yang paling relevan untuk mengidentifikasi dimana posisi gps Kampong Depok dan Landhuis Depok adalah salinan testamen Cornelis Chastelein tentang pewarisan lahan kepada para tenaga kerjanya. Sumber berikutnya adalah peta Land Depok tahun 1901.

Berdasarkan rute yang digunakan oleh Abraham van Riebeek pada saat ekspedisi ke hulu dari sisi barat sungai Tjiliwong adalah Tjililitan, Tandjong, Pondok Tjina, Depok, Ratoedjaja dan Pondok Terong. Nam-nama kampong berada di sisi barat sungat Tjiliwong dan sangat dekat atau dipinggir sungai Tjiliwong. Oleh karena kampong dan sungai terkait, maka kampong-kampong tersebut berada di tempat yang rendah atau lembah yang langsung bersentuhan dengan sungai. Kampong-kampong ini menjadi semacam pelabuhan sungai di masa lampau. Kampong yang menjadi pelabuhan ini kedua sisi sungai besar kemungkinan sama-sama rendah. Kampung-kampung ini menjadi interchange (simpul) antara wilayah sisi barat dan wilayah sisi timur sungai Tjiliwong. Dengan kata lain, lebar sungai cukup besar dan arus air lebih tenang yang memungkinkan adanya getek.

Secara teoritis, letak Kampong Depok ini berada di hilir jembatan Panus yang sekarang. Sedangkan jembatan Panus, yang cikal bakalnya di masa lampau adalah jembatan bambu lokasinya dipilih di lebar sungai yang paling sempit. Arus air di bawah jembatan biasanya sangat deras.

Sementara posisi gps landhuis yang menjadi pusat kegiatan Cornelis Chastelein dalam mengusahakan pertanian berada di lokasi yang berbeda dengan Kampong Depok. Oleh karena landnya disebut Land Depok, maka landhuis ini tidak terlalu jauh dari Kampong Depok (nama land dan nama landhuis yang merujuk pada nama kampong). Landhuis menjadi semacam ‘ibukota’ di Land Depok.

Peta (Land Depok), 1901
Ibukota Land Depok adalah ibukota bagi orang asing (Eropa/Belanda) di lingkungan orang asli. Orang asing dalam hal ini ingin membuat koloni. Sebagai orang asing dan membuat koloni baru, maka orang asing tidak pernah mengambil tempat di kompong yang sudah eksis. Dengan kata lain, orang asing tidak pernah mengakuisisi kampong orang asli (apalagi mengusirnya). Sebab, orang asli adalah partner strategisnya di lingkungan yang baru. Hal ini yang terjadi pada area koloni yang lebih besar seperti Batavia, Buitenzorg, Bandoeng, Semarang, Medan dan Padang. Untuk area koloni yang lebih kecil seperti landhuis Depok  secara teoritis kurang lebih sama. Oleh karena sebagai orang asing, untuk mempertahankan keamanan, orang asing memilih lokasi yang secara alamiah memiliki fungsi pertahanan seperti laut, danau, tebing atau jurang. Berdasarkan pemahaman serupa ini landhuis Depok berada di sisi sungai Tjiliwong yang paling strategis dari sudut keamanan dan pertahanan.

Lokasi landhuis yang dipilih Cornelis Chastelein adalah sisi dalam lekukan sungai Tjiliwong. Sebab secara alamiah sungai telah membentengi landhuis separuh area landhuis. Posisi landhuis ini besar kemungkinan di dekat situs gereja tua Depok di hook jalan Pemuda yang sekarang. Sementara untuk tempat pemukiman tenaga kerjanya berada di belakang gereja tersebut. Pemukiman tenaga kerja ini kelak menjadi perkampungan bagi para pewaris Cornelis Chastelein.

'De Eerste Protestante Organisatie van Christenen’

Orang pribumi Kristen yang berada di bawah Portugis di Toegoe di Batavia pindah ke Kampong Toegoe di Depok. Sementara itu, di Depok, sudah ada penduduk pribumi yang sudah beragama Kristen sejak era C. Chastelein.

Semasa Cornelis Chastelein di Depok sudah ada gereja. Antara 1714 hingga 1744 sudah ada sekolah bagi penduduk pribumi Kristen di Depok dan Toegoe di bawah pengawasan gereja. (lihat Over den toestand en de behoeften van het onderwijs der jeugd in Nederlandsch Indie, 1850). Inlandsche christen gemeente sebanyak 291 orang dan gereja dibangun tahun 1792. Gereja kedua dibangun tahun 1836. Kemudian dibangun gereja ketiga yang terbuat dari papan yang dihubungkan dengan sekolah yang dihadiri oleh 53 murid (Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, 1873). Pendeta Depok yang terkenal Beukhof.

Nederlandsche Zendelinggenootschap mulai merencanakan misinya di Hindia Timur sejak 1790an dan melakukan kegiatan misi di berbagai tempat seperti Amboina, Timor, Riouw dan Celebes.

Pada tahun 1828 atau 1834 pemerintah membangun sekolah guru agama Kristen di Depok. Beasiswa yang direncanakan untuk pengiriman murid ke sekolah misi di Depok: Amboina f8.640, Timor f16.545, Riouw f1.900, Celebes f8.940, dan Depok sendiri f600.

Buku-buku yang pembuatannya dibiayai oleh Nederlandsche Zendelinggenootschap:
      1.    Kitâb Malájuw 'åkan meg’âdjar hêdjà güna segala 'Anakh Jang baháruw memulâij dengan peladjâran.
      2.   Kitab Malajuw jang kaduwa, 'åkan meng’âdjar hêdjâ, gūna segala 'ánakh jang sudah belâdjar sedikit sâdja.
      3.    Kitàb Midras jag dålamnja 'ada ter simpan babarapa fatsal jag Pendekh dán bergüna, 'åkan debatjåkan; terkårang dålam bahása Wolandâwij, güna segala 'Anakh Midras, 'awleh tuwan pema Rentah Midras dàn tersâlin kapada bahása Malájuw 'awleh R. Le Bruyn, Pandita 'Indjil di pùlaw Timor.
      4.   Sawàtu perkatà dan natsilhat.
      5.   Tjeritera Ihikajet Isãj 'Elmesêlh jang 'Anakh 'Allah dan Muchalits segala 'awrang berdawsa.

      6.    Perg’adjàran jang pendekh 'åkan segala Kabenâran 'Agama Mesêlhij, terkårang 'awleh A. Brink, tersâlin deri pada bahàsa Wolandâwij kapada bahása Malâjuw 'awleh J. Akersloot, jang pada màsa hidopmja Surôhan 'Indjil ditánah Depok, dekàt Bâtawijah (terbit 1839?).
Depok (dan Toegoe) selain terbilang awal juga jumlah pribumi yang beragama Kristen terbanyak. Awalnya komunitas Kristen di Depok disebut Inlandsch gemeente van Depok kemudian lebih dikenal sebagai Christenden Gemeente van Depok. Keberadaan Depok semakin penting ketika kegiatan misionaris mulai digalakkan di berbagai tempat di Hindia Belanda. Sekolah bagi pribumi yang beragama Kristen yang kemudian muncul sekolah zending di Depok semakin memperkuat keberadaan Depok sebagai Christenden Gemeente van Depok.

Pewaris yang Setia

Salah satu faktor penting mengapa Land Depok menjadi Christenden Gemeente van Depok adalah kesetiaan para pewaris terhadap pesan yang diinginkan oleh Cornelis Chastelein. Dalam testamennya, Cornelis Chastelein meginginkan di Land Depok terbentuk komunitas Kristen. Nederlandsche Zendelinggenootschap melihat riwayat Depok ini sebagai hal yang strategis.

Sementara penduduk di sekitar Land Depok sudah sejak lama beragama Islam termasuk penduduk di kampung-kampung yang berada di Land Mampang. Tokoh-tokoh agama Islam di luar Land Depok (terutama Land Ratoe Djaja dan Land Pondok Terong) menyadari posisi Land Depok dari sisi internal (testament) dan dari sisi eksternal tentang perkembangan yang terjadi di dalam Christenden Gemeente van Depok yang sudah disokong oleh Nederlandsche Zendelinggenootschap. Sebagaimana tokoh-tokoh Islam di sekitar Depok yang khawatir terhadap pengaruh Kristen di Depok, juga para jemaat Depok (Christenden Gemeente van Depok) juga memiliki kekhawatiran terhadap penduduk lokal di wilayah sekitar. Dalam suatu perayaan keagamaan di Ratoe Djaja diduga Raden Saleh hadir dan kehadirannya telah menjadi polemik pada surat kabar di kalangan Kristen. Raden Saleh adalah pelukis terkenal berdarah Arab yang telah lama belajar di Belanda (dan dianggap telah dekat dengan Belanda). Kalangan Kristen menganggap Raden Saleh telah menyokong munculnya gerakan Islam di sekitar Depok yang berpusat di Ratoe Djaja/Pondok Terong. Sebab belum lama berselang terjadi kerusuhan yang terjadi di Bekasi dan sekitar yang mana tokoh-tokoh agama dari Ratoe Djaja/Pondok Terong terlibat.      

Meski ketegangan selalu ada antara komunitas Kristen di Land Depok dengan penduduk lokal di sekitar, namun tidak pernah terdeteksi terjadi kerusuhan. Boleh jadi ini karena faktor pewaris dari Cornelis Chastelein yang setia dengan wasiat yang mereka terima yakni menjadi penganut agama Kristen yang baik dan tidak ingin bertabrakan dengan para tetangga. Faktor luar (utamanya kehadiran Nederlandsche Zendelinggenootschap) diduga yang menyebabkan munculnya ketegangan. Sebagaimana para pendeta-pendeta yang ada di Land Depok berasal dari luar (bukan pribumi) dan berfiliasi dengan Nederlandsche Zendelinggenootschap.

Pemerintah Hindia Belanda pada prinsipnya netral dalam urusan keagamaan (liberal/sekuler). Kemauan Nederlandsche Zendelinggenootschap tidak selalu dituruti oleh Pemerintah. Sebaliknya, Pemerintah Hindia Belanda menganggap Islam, Kristen dan pagan sama pentingnya. Yang diutamakan pemerintah adalah siapa yang bersedia berpartisipasi dalam pembangunan jalan dan jembatan (faktor ekonomi) apakah mereka Islam, Kristen atau pagan.

Sebagai pewaris Land Depok tampaknya, komunitas Kristen Depok atau jemaan Depok sangat menyadari bahwa lahan mereka adalah lahan warisan. Para pewaris ini konsisten untuk mempertahankannya tanpa ada yang mengganggu baik oleh masyarakat sekitar maupun oleh pemerintah sendiri.

Namun demikian, setiap masa ada saja yang membutuhkan hak yang melekat kepada para pewaris. Para pewaris awalnya enggan untuk melepaskannnya. Para pewaris menganggap pelanggaran terhadap wasiat yang diterima. Namun upaya mempertahankan hak pewarisan dan kesetiaan terhadap pesan dalam wasiat Cornelis Chastelein tidak selalu dapat dipertahankan. Pertama, dalam pembangunan jalur kereta api. Para pewaris enggan lahan Depok diokupasi untuk jalur kereta api oleh pihak investor swasta yang didukung pemerintah. Namun persoalan yang berlarut-larut dapat ditengahi oleh pemerintah dengan keputusan Pengadilan Tinggi untuk mengakuisisi lahan dengan pemberian konpensasi (1871).

Sebelumnya sempat ada rencana membangun kereta rute melalui Tjinere dan Sawangan dengan jalan melengkung (lihat Particuliere landerijen door J.F.W. van Nes, 1848). Rencana pembangunan jalur kereta api ini tidak diketahui ujung pangkalnya hingga muncul proposal konsesi pembangunan kereta api tahun 1864.

Kedua, dalam persoalan pengairan persawahan di Tandjong Barat. Untuk meningkatkan debit air melalui kanal Tanah Baroe diusulkan agar menutup Situ Pitara. Gemeente Depok. Awalnya tidak rela, sekali lagi, karena ini dianggap melanggar pewarisan Land Depok dari Cornelis Chastelein. Lalu dalam perkembangannya, pemerintah Batavia terus mencari jalan keluar dan akhirnya Situ Pitara ditutup agar aliran dari Kali Baroe yang melalui Pondok Terong/Ratoe Djaja diteruskan langsung ke Kali Baroe tanpa ada penyimpinan air (konservasi) di Situ Pitara lagi. Ini berarti Situ Pitara harus ditutup (1830). Dalam penutupan Situ Pitara, Gemeente Depok diberi konpensasi oleh pemerintah.

Itulah kisah Land Depok sebagai Christenden Gemeente van Depok sebagai salah satu gereja Kristen tertua di pulau Jawa (Een der oudste Christengemeenten van het eiland Java) (lihat Stemmen voor waarheid en vrede jrg 31, 1894). Di Seminarie van Depok juga pernah tercatat sebagai tempat konferensi pertama (eerste Indische Zendingsconferentie) pada tahun 1882 (lihat FW Grosheide, 1926).

Dengan demikian bahwa Gemeente Depok tidak salah dianggap sebagai de eerste protestante organisatie van Christenen, tetapi tidak berarti asal nama Depok dari singkatan tersebut. Nama Depok sebagaimana nama-nama Ratoe Djaja, Pondok Terong dan Pondok Tjina adalah nama asli yang sudah sejak lama ada dan sulit ditelusuri. Cornelis Chastelein yang menjadi haknya dan telah diwariskannya memang menginginkan (hanya) Land Depok (saja) untuk menjadi Christen-negorij. Itu semua telah terlaksana paling tidak hingga eksistensi Belanda berakhir di Indonesia.

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.



ASAL USUL TANGGERANG


Nama Tangerang berasal dari kata “Tangeran”, kata “Tangeran” dalam bahasa Sunda memiliki arti “tanda”. Tangeran di sini berupa tugu yang didirikan sebagai tanda batas wilayah kekuasaan Banten dan VOC, pada waktu itu.
Tangeran tersebut berlokasi dibagian barat Sungai Cisadane (Kampung Grendeng atau tepatnya di ujung jalan Otto Iskandar Dinata sekarang). Tugu tersebut dibangun oleh Pangeran Soegiri, salah satu putra Sultan Ageng Tirtayasa.
Pada tugu tersebut tertulis prasasti dalam huruf Arab gundul dengan dialek Banten, yang isinya sebagai berikut :
Bismillah peget Ingkang Gusti
Diningsun juput parenah kala Sabtu
Ping Gasal Sapar Tahun Wau
Rengsena Perang nelek Nangeran
Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian
Sakebeh Angraksa Sitingsung Parahyang-Titi
Artinya terjemahan dalam bahasa Indonesia :
Dengan nama Allah tetap Maha Kuasa
Dari kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu
Tanggal 5 Sapar Tahun Wau
Sesudah perang kita memancangkan Tugu
Untuk mempertahankan batas Timur Cipamugas
(Cisadane) dan Barat yaitu Cidurian
Semua menjaga tanah kaum Parahyang
Kemudian kata “Tangeran” berubah menjadi “Tangerang” disebabkan pengaruh ucapan dan dialek dari tentara kompeni yang berasal dari Makasar. Orang-orang Makasar tidak mengenal huruf mati, akhirnya kata “Tangeran” berubah menjadi “Tangerang”.
Menurut kajian buku “Sejarah Kabupaten Tangerang” yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Tangerang bekerjasama dengan LPPM Unis Tangerang, daerah Tangerang sejak dulu telah mengenal pemerintahan. Cerita pemerintahan ini telah berkembang di masyarakat.
Cerita itu berawal dari tiga maulana yang diangkat oleh penguasa Banten pada waktu itu. Tiga Maulana kemudian mendirikan kota Tangerang itu adalah Yudhanegara, Wangsakara dan Santika. Pangkat ketiga Maulana tersebut adalah Aria.
Pemerintahan kemaulanaan yang menjadi pusat perlawanan terhadap penjajah di Tigaraksa (artinya pemimpin), mendirikan benteng, disepanjang tepi Sungai Cisadane. Kata “Benteng” ini kemudian menjadi sebutan kota Tangerang. Dalam pertempuran melawan VOC, maulana ini berturut-turut gugur satu persatu. Dengan gugurnya para maulana, maka berakhirlah pemerintahan kemaulanaan di Tangerang. Masyarakat mengangap pemerintahan kemaulanaan ini sebagai cikal bakal pemerintahan di Tangerang.
Untuk mengungkapkan asal-usul tangerang sebagai kota “Benteng”, diperlukan catatan yang menyangkut perjuangan. Menurut sari tulisan F. de Haan yang diambil dari arsip VOC,resolusi tanggal 1 Juni 1660 dilaporkan bahwa Sultan Banten telah membuat negeri besar yang terletak di sebelah barat sungai Untung Jawa, dan untuk mengisi negeri baru tersebut Sultan Banten telah memindahkan 5 sampai 6.000 penduduk.
Kemudian dalam Dag Register tertanggal 20 Desember 1668 diberitakan bahwa Sultan Banten telah mengangkat “Radin Sina Patij dan Keaij Daman” sebagai penguasa di daerah baru tersebut. Karena dicurigai akan merebut kerajaan, Raden Sena Pati dan Kyai Demang dipecat Sultan. Sebagai gantinya diangkat Pangeran Dipati lainnya. Atas pemecatan tersebut Ki Demang sakit hati. Kemudian tindakan selanjutnya ia mengadu domba antara Banten dan VOC. Tetapi ia terbunuh di Kademangan.
Dalam arsip VOC selanjutnya, yaitu dalam Dag Register tertanggal 4 Maret 1980 menjelaskan bahwa penguasa Tangerang pada waktu itu adalah ”Keaij Dipattij Soera Dielaga”. Kyai Soeradilaga dan putranya Subraja minta perlindungan kompeni dengan diikuti 143 pengiring dan tentaranya (keterangan ini terdapat dalam Dag Register tanggal 2 Juli 1982). Ia dan pengiringnya ketika itu diberi tempat di sebelah timur sungai, berbatasan dengan pagar kompeni.
Ketika bertempur dengan Banten, ia beserta ahli perangnya berhasil memukul mundur pasikan Banten. Atas jasa keunggulannya itu kemudian ia diberi gelar kehormatan Raden Aria Suryamanggala, sedangkan Pangerang Subraja diberi gelar Kyai Dipati Soetadilaga. Selanjutnya Raden Aria Soetadilaga diangkat menjadi Bupati Tangerang I dengan wilayah meliputi antara sungai Angke dan Cisadane. Gelar yang digunakannya adalah Aria Soetidilaga I. Kemudian dengan perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 17 April 1684, Tangerang menjadi kekuasaan kompeni, Banten tidak mempunyai hak untuk campur tangan dalam mengatur tata pemerintahan di Tangerang. Salah satu pasal dari perjanjian tersebut berbunyi: ”Dan harus diketahui dengan pasti sejauh mana batas-batas daerah kekuasaan yang sejak masa lalu telah dimaklumi maka akan tetap ditentukan yaitu daerah yang dibatasi oleh sungai Untung Jawa atau Tangerang dari pantai Laut Jawa hingga pegunungan-pegunungan sejauh aliran sungai tersebut dengan kelokan-kelokannya dan kemudian menurut garis lurus dari daerah Selatan hingga utara sampai Laut Selatan. Bahwa semua tanah disepanjang Untung Jawa atau Tangerang akan menjadi milik atau ditempati kompeni”
Dengan adanya perjanjian tersebut daerah kekuasaan bupati bertambah luas sampai sebelah barat sungai Tangerang. Untuk mengawasi Tangerang maka dipandang perlu menambah pos-pos penjagaan di sepanjang perbatasan sungai Tangerang, karena orang-orang Banten selalu menekan penyerangan secara tiba-tiba. Menurut peta yang dibuat tahun 1962, pos yang paling tua terletak di muara sungai Mookervaart, tepatnya disebelah utara Kampung Baru. Namun kemudian ketika didirikan pos yang baru, bergeserlah letaknya ke sebelah Selatan atau tepatnya di muara sungai Tangerang.
Menurut arsip Gewone Resolutie Van hat Casteel Batavia tanggal 3 April 1705 ada rencana merobohkan bangunan-bangunan dalam pos karena hanya berdinding bambu. Kemudian bangunannya diusulkan diganti dengan tembok. Gubernur Jenderal Zwaardeczon sangat menyetujui usulan tersbut, bahkan diinstruksikan untuk membuat pagar tembok mengelilingi bangunan-bangunan dalam pos penjagaan. Hal ini dimaksudkan agar orang Banten tidak dapat melakukan penyerangan. Benteng baru yang akan dibangun untuk ditempati itu direncanakan punya ketebalan dinding 20 kaki atau lebih. Disana akan ditempatkan 30 orang Eropa dibawah pimpinan seorang Vandrig(Peltu) dan 28 orang Makasar yang akan tinggal diluar benteng. Bahan dasar benteng adalah batu bata yang diperoleh dari Bupati Tangerang Aria Soetadilaga I.
Setelah benteng selesai dibangun personilnya menjadi 60 orang Eropa dan 30 orang hitam. Yang dikatakan orang hitam adalah orang-orang Makasar yang direkrut sebagai serdadu kompeni. Benteng ini kemudian menjadi basis kompeni dalam menghadapi pemberontakan dari Banten. Kemudian pada tahun 1801, diputuskan untuk memperbaiki dan memperkuat pos atau garnisun itu, dengan letak bangunan baru 60 roeden agak ke tenggara, tepatnya terletak disebelah timur Jalan Besar pal 17. Orang-orang pribumi pada waktu itu lebih mengenal bangunan ini dengan sebutan ”Benteng”. Sejak itu, Tangerang terkenal dengan sebutan Benteng. Benteng ini sejak tahun 1812 sudah tidak terawat lagi, bahkan menurut ”Superintendant of Publik Building and Work” tanggal 6 Maret 1816 menyatakan: ”…Benteng dan barak di Tangerang sekarang tidak terurus, tak seorangpun mau melihatnya lagi. Pintu dan jendela banyak yang rusak bahkan diambil orang untuk kepentingannya”
Kabupaten Tangerang sejak ratusan tahun lalu sudah menjadi daerah perlintasan perniagaan, perhubungan sosial dan interaksi antardaerah lain. Hal ini, disebabkan letak daerah ini yang berada di dua poros pusat perniagaan Jakarta – Banten.
Berdasarkan catatan sejarah, daerah ini sarat dengan konflik kepentingan perniagaan dan kekuasaan wilayah antara Kesultanan Banten dengan Penjajah Belanda.
Secara tutur-tinular, masa pemerintahan pertama secara sistematis yang bisa diungkapkan di daerah dataran ini, adalah saat Kesultanan Banten yang terus terdesak agresi penjajah Belanda lalu mengutus tiga maulananya yang berpangkat aria untuk membuat perkampungan pertahanan di Tangerang.
Ketiga maulana itu adalah Maulana Yudanegara, Wangsakerta dan Santika. Konon, basis pertahanan merka berada di garis pertahanan ideal yang kini disebut kawasan Tigaraksa dan membentuk suatu pemerintahan. Sebab itu, di legenda rakyat cikal-bakal Kabupaten Tangerang adalah Tigaraksasa [sebutan Tigaraksasa, diambil dari sebutan kehormatan kepada tiga maulana sebagai tiga pimpinan = tiangtiga = Tigaraksa].
Pemerintahan ketiga maulana ini, pada akhirnya dapat ditumbangkan dan seluruh wilayah pemerintahannya dikuasai Belanda, berdasar catatan sejarah terjadi tahun 1684. Berdasar catatan pada masa ini pun, lahir sebutan kota Tangerang. Sebutan Tangerang lahir ketika Pangeran Soegri, salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten membangun tugu prasasti di bagian barat Sungai Cisadane [diyakini di kampung Gerendeng, kini].
Tugu itu disebut masyarakat waktu itu dengan Tangerang [bahasa Sunda=tanda] memuat prasasti dalam bahasa Arab Gundul Jawa Kuno, “Bismillah peget Ingkang Gusti/Diningsun juput parenah kala Sabtu/Ping Gangsal Sapar Tahun Wau/ Rengsenaperang netek Nangeran/Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian/Sakabeh Angraksa Sitingsun Parahyang”
Arti tulisan prasasti itu adalah: “Dengan nama Allah tetap Yang Maha Kuasa/Dari kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu/Tanggal 5 Sapar Tahun Wau/Sesudah perang kita memancangkan tugu/Untuk mempertahankan batas timur Cipamugas [Cisadane] dan barat Cidurian/ Semua menjaga tanah kaum Parahyang”
Diperkirakan sebutan Tangeran, lalu lama-kelamaan berubah sebutan menjadi Tangerang.
Desakan pasukan Belanda semakin menjadi-jadi di Banten sehingga memaksa dibuatnya perjanjian antar kedua belah pihak pada 17 April 1684 yang menjadikan daerah Tangerang seluruhnya masuk kekuasaan Penjajah Belanda. Sebagai wujud kekuasaannya, Belanda pun membentuk pemerintahan kabupaten yang lepas dari Banten dengan dibawah pimpinan seorang bupati.
Para bupati yang sempat memimpin Kabupaten Tangerang periode tahun 1682 – 1809 adalah Kyai Aria Soetadilaga I-VII. Setelah keturunan Aria Soetadilaga dinilai tak mampu lagi memerintah kabupaten Tangerang dengan baik, akhirnya penjajah Belanda menghapus pemerintahan di daerah ini dan memindahkan pusat pemerintahan ke Jakarta.
Lalu, dibuat kebijakan sebagian tanah di daerah itu dijual kepada orang-orang kaya di Jakarta, sebagian besarnya adalah orang-orang Cina kaya sehingga lahir masa tuan tanah di Tangerang.
Pada 8 Maret 1942, Pemerintahan Penjajah Belanda berakhir di gantikan Pemerintahan Penjajah Jepang. Namun terjadi serangan sekutu yang mendesak Jepang di berbagai tempat, sebab itu Pemerintahan Militer Jepang mulai memikirkan pengerahan pemuda-pemuda Indonesia guna membantu usaha pertahanan mereka sejak kekalahan armadanya di dekat Mid-way dan Kepulauan Solomon.
Kemudian pada tanggal 29 April 1943 dibentuklah beberapa organisasi militer, diantaranya yang terpenting ialah Keibodan [barisan bantu polisi] dan Seinendan [barisan pemuda]. Disusul pemindahan kedudukan Pemerintahan Jakarta Ken ke Tangerang dipimpin oleh Kentyo M Atik Soeardi dengan pangkat Tihoo Nito Gyoosieken atas perintah Gubernur Djawa Madoera. Adapun Tangerang pada waktu itu masih berstatus Gun atau kewedanan berstatus ken (kabupaten).
Berdasar Kan Po No. 34/2604 yang menyangkut pemindahan Jakarta Ken Yaskusyo ke Tangerang, maka Panitia Hari Jadi Kabupaten Tangerang menetapkan terbentuknya pemerintahan di Kabupaten Tangerang. Sebab itu , kelahiran pemerintahan daerah ini adalah pada tanggal 27 Desember 1943. Selanjutnya penetapan ini dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Tangerang Nomor 18 Tahun 1984 tertanggal 25 Oktober 1984.
Dalam masa-masa proklamasi, telah terjadi beberpa peristiwa besar yang melibatkan tentara dan rakyat Kabupaten Tangerang dengan pasukan Jepang dan Belanda, yaitu Pertempuran Lengkong dan Pertempuran Serpong.
Pertumbuhan perekonomian Kabupaten Tangerang sebagai daerah lintasan dan berdekatan dengan Ibukota Negara Jakarta melesat pesat. Apalagi setelah diterbitkannya Inpres No.13 Tahun 1976 tentang pengembangan Jabotabek, di mana kabupaten Tangerang menjadi daerah penyanggah DKI Jakarta.
Tanggal 28 Pebruari 1993 terbit UU No. 2 Tahun 1993 tentang Pembentukan Kota Tangerang. Berdasarkan UU ini wilayah Kota Administratif Tangerang dibentuk menjadi daerah otonomi Kota Tangerang, yang lepas dari Kabupaten Tangerang. Berkaitan itu terbit pula Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1995 tentang pemindahan Ibukota Kabupaten Dati II Tangerang dari Wilayah Kotamadya Dati II Tangerang ke Kecamatan Tigaraksa.
Akhirnya, pada awal tahun 2000, pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang pun di pindahkan Bupati H. Agus Djunara ke Ibukota Tigaraksa. Pemindahan ini dinilai strategis dalam upaya memajukan daerah karena bertepatan dengan penerapan otonomi daerah, diberlakukannya perimbangan keuangan pusat dan daerah, adanya revisi pajak dan retribusi daerah, serta terbentuknya Propinsi Banten.
ASAL USUL BEKASI

A. Sejarah Kota Bekasi Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri, itulah sebutan Bekasi tempo dulu sebagai Ibukota Kerajaan Tarumanagara (358-669). Luas Kerajaan ini mencakup wilayah Bekasi, Sunda KElapa, Depok, Cibinong, Bogor hingga ke wilayah Sungai Cimanuk di Indramayu. Menurut para ahli sejarah dan fisiologi, leatak Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri sebagai Ibukota Tarumanagara adalah di wilayah Bekasi sekarang.Dayeuh Sundasembawa inilah daerah asal Maharaja Tarusbawa (669-723 M) pendiri Kerajaan Sunda dan seterusnya menurunkan Raja-Raja Sunda sampai generasi ke-40 yaitu Ratu Ragumulya (1567-1579 M) Raja Kerajaan Sunda (disebut pula Kerajaan Pajajaran) yang terakhir. Wilayah Bekasi tercatat sebagai daerah yang banyak memberi infirmasi tentang keberadaan Tatar Sunda pada masa lampau. Diantaranya dengan ditemukannya empat prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Kebantenan. Keempat prasasti ini merupakan keputusan (piteket) dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, Jayadewa 1482-1521 M) yang ditulis dalam lima lembar lempeng tembaga. Sejak abad ke 5 Masehi pada masa Kerajaan Tarumanagara abad kea 8 Kerajaan Galuh, dan Kerajaan Pajajaran pada abad ke 14, Bekasi menjadi wilayah kekuasaan karena merupakan salah satu daerah strategis, yakni sebagai penghubung antara pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta). Sejarah Sebelum Tahun 1949 Kota Bekasi ternyata mempunyai sejarah yang sangat panjang dan penuh dinamika. Ini dapat dibuktikan perkembangannya dari jaman ke jaman, sejak jaman Hindia Belanda, pundudukan militer Jepang, perang kemerdekaan dan jaman Republik Indonesia. Di jaman Hindia Belanda, Bekasi masih merupakan Kewedanaan (District), termasuk Regenschap (Kabupaten) Meester Cornelis. Saat itu kehidupan masyarakatnya masih di kuasai oleh para tuan tanah keturunan Cina. Kondisi ini terus berlanjut sampai pendudukan militer Jepang. Pendudukan militer Jepang turut merubah kondisi masyarakat saat itu. Jepang melaksanakan Japanisasi di semua sektor kehidupan. Nama Batavia diganti dengan nama Jakarta. Regenschap Meester Cornelis menjadi KEN Jatinegara yang wilayahnya meliputi Gun Cikarang, Gun Kebayoran dan Gun Matraman.Setelah proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, struktur pemerintahan kembali berubah, nama Ken menjadi Kabupaten, Gun menjadi Kewedanaan, Son menjadi Kecamatan dan Kun menjadi Desa/Kelurahan. Saat itu Ibu Kota Kabupaten Jatinegara selalu berubah-ubah, mula-mula di Tambun, lalu ke Cikarang, kemudian ke Bojong (Kedung Gede). Pada waktu itu Bupati Kabupaten Jatinegara adalah Bapak Rubaya Suryanaatamirharja.Tidak lama setelah pendudukan Belanda, Kabupaten Jatinegara dihapus, kedudukannya dikembalikan seperti zaman Regenschap Meester Cornelis menjadi Kewedanaan. Kewedanaan Bekasi masuk kedalam wilayah Batavia En Omelanden. Batas Bulak Kapal ke Timur termasuk wilayah negara Pasundan di bawah Kabupaten Kerawang, sedangkan sebelah Barat Bulak Kapal termasuk wilayah negara Federal sesuai Staatsblad Van Nederlandsch Indie 1948 No. 178 Negara Pasundan. Sejarah Tahun 1949 sampai Terbentuknya Kota Bekasi Sejarah setelah tahun 1949, ditandai dengan aksi unjuk rasa sekitar 40.000 rakyat Bekasi pada tanggal 17 Februari 1950 di alun-alun Bekasi. Hadir pada acara tersebut Bapak Mu’min sebagai Residen Militer Daerah V. Inti dari unjuk rasa tersebut adalah penyampaian pernyataan sikap sebagai berikut : Rakyat bekasi mengajukan usul kepada Pemerintah Pusat agar kabupaten Jatinegara diubah menjadi Kabupaten Bekasi. Rakyat Bekasi tetap berdiri di belakang Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 1950 terbentuklah Kabupaten Bekasi, dengan wilayah terdiri dari 4 kewedanaan, 13 kecamatan (termasuk Kecamatan Cibarusah) dan 95 desa. Angka-angka tersebut secara simbolis diungkapkan dalam lambang Kabupaten Bekasi dengan motto "SWATANTRA WIBAWA MUKTI". Pada tahun 1960 kantor Kabupaten Bekasi berpindah dari Jatinegara ke kota Bekasi (jl. H Juanda). Kemudian pada tahun 1982, saat Bupati dijabat oleh Bapak H. Abdul Fatah Gedung Perkantoran Pemda Kabupaten Bekasi kembali dipindahkan ke Jl. A. Yani No.1 Bekasi. Pasalnya perkembangan Kecamatan Bekasi menuntut dimekarkannya Kecamatan Bekasi menjadi Kota Administratif Bekasi yang terdiri atas 4 kecamatan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1981, yaitu Kecamatan Bekasi Timur, bekasi Selatan, Bekasi Barat dan Bekasi Utara, yang seluruhnya menjadi 18 kelurahan dan 8 desa. Peresmian Kota Administratif Bekasi dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 20 April 1982, dengan walikota pertama dijabat oleh Bapak H. Soedjono (1982 – 1988). Tahun 1988 Walikota Bekasi dijabat oleh Bapak Drs. Andi Sukardi hingga tahun 1991 (1988 - 1991, kemudian diganti oleh Bapak Drs. H. Khailani AR hingga tahun (1991 – 1997) Pada Perkembangannya Kota Administratif Bekasi terus bergerak dengan cepat. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dan roda perekonomian yang semakin bergairah. Sehingga status Kotif. Bekasi pun kembali di tingkatkan menjadi Kotamadya (sekarang "Kota") melalui Undang-undang Nomor 9 Tahun 1996 Menjabat Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Bekasi saat itu adalah Bapak Drs. H. Khailani AR, selama satu tahun (1997-1998). Tgl 10 Maret 1997 ditetapkan sebagsai hari jadi kota Bekasi. Selanjutnya berdasarkan hasil pemilihan terhitung mulai tanggal 23 Pebruari 1998 Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Bekasi definitif dijabat oleh Bapak Drs. H Nonon Sonthanie (1998-2003). Setelah pemilihan umum berlangsung terpilihlah Walikota dan Wakil Walikota Bekasi yaitu : Akhmad Zurfaih dan Moechtar Muhammad (perode 2003 - 2008). Saat ini Walikota Bekasi Dr H Rahmat Effendi dan Wakilnya H Ahmad Syaikhu (2009 - 2014 ) B. Kabupaten Bekasi Kabupaten Bekasi adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Kota Cikarang. Kabupaten ini berada tepat di sebelah timur Jakarta, berbatasan dengan Kota Bekasi dan Provinsi DKI Jakarta di barat, Laut Jawa di barat dan utara, Kabupaten Karawang di timur, serta Kabupaten Bogor di selatan. Kabupaten Bekasi terdiri atas 23 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Sejarah Penelusuran Poerbatjaraka (seorang ahli bahasa Sansakerta dan bahasa Jawa Kuno). Kata “Bekasi” secara filologis berasal dari kata Candrabhaga; Candra berarti bulan (“sasi” dalam bahasa Jawa Kuno) dan Bhaga berarti bagian. Jadi Candrabhaga berarti bagian dari bulan. Pelafalannya kata Candrabhaga kadang berubah menjadi Sasibhaga atau Bhagasasi. Dalam pengucapannya sering disingkat Bhagasi, dan karena pengaruh bahasa Belanda sering ditulis Bacassie (di Stasiun KA Lemahabang pernah ditemukan plang nama Bacassie). Kata Bacassie kemudian berubah menjadi Bekasi sampai dengan sekarang. Candrabhaga merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara, yang berdiri sejak abad ke 5 Masehi. Ada 7 (tujuh) prasasti yang menyebutkan adanya kerajaan Tarumanagara yang dipimpin oleh Maharaja Purnawarman, yakni : Prasasti Tugu (Cilincing, Jakarta), Prasasti Ciaruteun, Prasasti Muara Cianteun, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu, Prasasti Pasir Awi (ke enam prasasti ini ada di Daerah Bogor), dan satu prasasti di daerah Bandung Selatan (Prasasti Cidangiang). Diduga bahwa Bekasi merupakan salah satu pusat Kerajaan Tarumanagara (Prasasti Tugu, berbunyi : ..dahulu kali yang bernama Kali Candrabhaga digali oleh Maharaja Yang Mulia Purnawarman, yang mengalir hingga ke laut, bahkan kali ini mengalir disekeliling istana kerajaan. Kemudian, semasa 22 tahun dari tahta raja yang mulia dan bijaksana beserta seluruh panji-panjinya menggali kali yang indah dan berair jernih, “Gomati” namanya. Setelah sungai itu mengalir disekitar tanah kediaman Yang Mulia Sang Purnawarman. Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik, yaitu pada tanggal 8 paro petang bulan phalguna dan diakhiri pada tanggal 13 paro terang bulan Caitra. Jadi, selesai hanya 21 hari saja. Panjang hasil galian kali itu mencapai 6.122 tumbak. Untuk itu, diadakan selamatan yang dipimpin oleh para Brahmana dan Raja mendharmakan 1000 ekor sapi…). Tulisan dalam prasasti ini menggambarkan perintah Raja Purnawarman untuk menggali kali Candrabhaga, yang bertujuan untuk mengairi sawah dan menghindar dari bencana banjir yang kerap melanda wilayah Kerajaan Tarumanagara. Setelah kerajaan Tarumanagara runtuh (abad 7), kerajaan yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap Bekasi adalah Kerajaan Padjadjaran, terlihat dari situs sejarah Batu Tulis (di daerah Bogor), Sutarga lebih jauh menjelaskan, bahwa Bekasi merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Padjadjaran dan merupakan salah satu pelabuhan sungai yang ramai dikunjungi oleh para pedagang. Bekasi menjadi kota yang sangat penting bagi Padjadjaran, selanjutnya menjelaskan bahwa: “..Pakuan adalah Ibukota Kerajaan Padjadjaran yang baru. Proses perpindahan ini didasarkan atas pertimbangan geopolitik dan strategi militer. Sebab, jalur sepanjang Pakuan banyak dilalui aliran sungai besar yakni sungai Ciliwung dan Cisadane. Oleh sebab itu, kota-kota pelabuhan yang ramai ketika itu akan mudah terkontrol dengan baik seperti Bekasi, Karawang, Kelapa, Tanggerang dan Mahaten atau Banten Sorasoan…” Demikianlah, waktu berlalu, kerajaan-demi kerajaan tumbuh, berkembang, mengalami masa kejayaan, runtuh, timbul kerajaan baru. Kedudukan Bekasi tetap menempati posisi strategis dan tercatat dalam sejarah masing-masing kerajaan (terakhir tercatat dalam sejarah, kerajaan yang menguasai Bekasi adalah Kerajaan Sumedanglarang, yang menjadi bagian dari Kerajaan Mataram). Bahkan bukti-bukti mengenai keberadaan kerajaan ini sampai sekarang masih ada, misalnya : ditemukannya makam Wangsawidjaja dan Ratu Mayangsari (batu nisan), makam Wijayakusumah serta sumur mandinya yang terdapat di kampung Ciketing, Desa Mustika Jaya, Bantargebang. Dimana baik batu nisan maupun kondisi sumur serta bebatuan sekitarnya, menunjukkan bahwa usianya parallel dengan masa Kerajaan Sumedanglarang. Demikian pula penemuan rantai di Kobak Rante, Desa Sukamakmur, Kecamatan Sukakarya (konon katanya, daerah Kobak Rante adalah daerah pinggir sungai yang cukup besar, hingga mampu dilayari kapal. Jalur ini sering digunakan patroli kapal dari Sumedanglarang. Suatu waktu, kapal bernama Terongpeot terdampar disana, sungai mengalami pendangkalan, Terongpeot tidak bisa berlayar, kayunya menjadi lapuk dan tinggallah rantainya saja…) Bekasi, masa pendudukan Belanda pada masa ini masuk ke dalam Regentschap Meester Cornelis, yang terbagi atas empat district, yaitu Meester Cornelis, Kebayoran, Bekasi dan Cikarang. District Bekasi, pada masa penjajahan Belanda dikenal sebagai wilayah pertanian yang subur, yang terdiri atas tanah-tanah partikelir, system kepemilikan tanahnya dikuasai oleh tuan-tuan tanah (kaum partikelir), yang terdiri dari pengusaha Eropa dan para saudagar Cina. Diatas tanah partikelir ini ditempatkan Kepala Desa atau Demang, yang diangkat oleh Residen dan digaji oleh tuan tanah. Demang ini dibantu oleh seorang Juru Tulis, para Kepala Kampung, seorang amil, seorang pencalang (pegawai politik desa), seorang kebayan (pesuruh desa), dan seorang ulu-ulu (pengatur pengairan). Untuk mengawasi tanah, para tuan tanah mengangkat pegawai atau pembantu dekatnya, disebut potia atau lands opziener. Potia biasanya keturunan Cina, yang diangkat oleh tuan tanah. Tugas potia adalah mengawasi para pekerja, serta mewakili tuan tanah apabila tidak ada ditempat. Disamping itu ada juga Mandor yang menguasai suatu wilayah, disebut wilayah kemandoran. Dalam praktek sehari-hari, mandor sangatlah berkuasa, seringkali tindakannya terhadap para penggarap melampaui batas-batas kemanusiaan. Para penggarap adalah pemilik tanah sebelumnya, yang tanahnya dijual pada tuan tanah. Orang yang diangkat mandor biasanya dari para jagoan atau jawara yang ditakuti oleh para penduduk. Distrik Bekasi terkenal subur yang produktif, hasilnya lebih baik jika dibandingkan dengan distrik-distrik lain di Batavia, distrik Bekasi rata-rata mencapai 30-40 pikul padi setiap bau, sedangkan distrik lain hanya mampu menghasilkan padi 15-30 pikul setiap bau’nya. Namun demikian yang menikmati hasil kesuburan tanah Bekasi adalah Sang tuan tanah, bukanlah rakyat Bekasi. Rakyat Bekasi tetap kekurangan, dalam kondisi yang serba sulit, seringkali muncul tokoh pembela rakyat kecil, semisal Entong Tolo, seorang kepala perambok yang selalu menggasak harta orang-orang kaya, kemudian hasilnya dibagikan kepada rakyat kecil, karenanya rakyat sangat menghormati dan melindungi keluarga Entong Tolo, Sang Maling Budiman, Robin Hood’nya rakyat Bekasi. Di hampir semua wilayah Bekasi memiliki cerita sejenis, dengan versi dan nama tokoh yang berbeda. Hal ini juga, yang mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat Bekasi, terhadap sesuatu yang berhubungan dengan ke’jawara’an. Setelah Entong Tolo ditangkap dan dibuang ke Menado, tahun 1913 di Bekasi muncul organisasi Sarekat Islam (SI) yang banyak diminati masyarakat yang sebagian besar petani. Berbeda dengan di daerah lain, kepengurusan SI Bekasi didominasi oleh kalangan pedagang, petani, guru ngaji, bekas tuan tanah dan pejabat yang dipecat oleh Pemerintah Hindia Belanda, serta para jagoan yang dikenal sebagai rampok budiman. Karena jumlah yang cukup banyak, SI Bekasi kemudian menjadi kekuatan yang dominan ketika berhadapan dengan para tuan tanah. Antara 1913-1922, SI Bekasi menjadi penggerak berbagai protes sebagai upaya penentangan terhadap berbagai penindasan terhadap petani, misalnya pemogokkan kerja paksa (rodi), protes petani di Setu (1913) sampai pemogokkan pembayaran “cuka” (1918). Bekasi, masa pendudukan Jepang Kedatangan Jepang di Indonesia bagi sebagian besar kalangan rakyat, memperkuat anggap eksatologis ramalan Jayabaya (buku “Jangka Jayabaya”, mengungkapkan :”…suatu ketika akan datang bangsa kulit kuning dari utara yang akan mengusir bangsa kulit putih. Namun, ia hanya akan memerintah sebentar yakni selama ‘seumur jagung’, sebagai Ratu Adil yang kelak akan melepaskan Indonesia dari belenggu penjajahan…” Pada awalnya, penaklukan Jepang terhadap Belanda disambut dengan suka cita, yang dianggap sebagai pembebas dari penderitaan. Rakyat Bekasi menyambut dengan kegembiraan, dan semakin meluap ketika Jepang mengijinkan pengibaran Sang Merah Putih dan dinyanyikannya lagu Indonesia Raya. Namun kegembiraan rakyat Bekasi hanya sekejap, selang seminggu pemerintah Jepang mengeluarkan larangan pengibaran Sang Merah Putih dan lagu Indonesia Raya. Sebagai gantinya Jepang memerintahkan seluruh rakyat Bekasi mengibarkan bendera “Matahari Terbit” dan lagu “Kimigayo”. Melalui pemaksaan ini, Jepang memulai babak baru penindasan, yang semula dibanggakan sebagai “saudara tua”. Kekejaman tentara Jepang semakin kentara, ketika mengintruksikan agar seluruh rakyat Bekasi berkumpul di depan kantor tangsi polisi, untuk menyaksikan hukuman pancung terhadap penduduk Telukbuyung bernama Mahbub, yang ditangkap karena disuga sebagai mata-mata Belanda dan menjual surat tugas perawatan kuda-kuda militer Jepang. Hukum pancung ini sebagai shock theraphy agar menimbulkan efek jera dan ketakutan bagi rakyat Bekasi. Bala tentara Jepang juga memberlakukan ekonomi perang, padi dan ternak yang ada di Bekasi Gun dicatat, dihimpun dan wajib diserahkan kepada penguasa militer Jepang. Bukan saja untuk keperluan sehari-hari tapi juga untuk keperluan jangka panjang, dalam rangka menunjang Perang Asia Timur Raya. Akibatnya, rakyat Bekasi mengalami kekurangan pangan, keadaan ini makin diperparah dengan adanya “Romusha” (kerja rodi). Pemerintah militer Jepang juga melakukan penetrasi kebudayaan dengan memaksa para pemuda Bekasi untuk belajar semangat bushido (spirit of samurai), pendewaan Tenno Haika (kaisar Jepang). Para pemuda dididik melalui kursus atau dengan melalui pembentukan Seinendan, Keibodan, Heiho dan tentara Pembela Tanah Air (PETA), yang kemudian langsung ditempatkan kedalam organisasi militer Jepang. Selain organisasi bentukan Jepang, pemuda Bekasi mengorganisasikan diri dalam organisasi non formal yaitu Gerakan Pemuda Islam Bekasi (GPIB), yang didirikan pada tahun 1943 atas inisiatif para pemuda Islam Bekasi yang setiap malam Jum’at mengadakan pengajian di Mesjid Al –Muwahiddin, Bekasi, para anggotanya terdiri atas pemuda santri, pemuda pendidikan umum dan pemuda “pasar” yang buta huruf. Awalnya GPIB dipimpin oleh Nurdin, setelah ia meninggal 1944, digantikan oleh Marzuki Urmaini. Hingga awal kemerdekaan BPIB memiliki anggota yang banyak, markasnya di rumah Hasan Sjahroni, di daerah pasar Bekasi, banyak anggotanya kemudian bergabung ke-BKR dan badan perjuangan yang dipimpin oleh KH Noer Alie. GPIB banyak memiliki Cabang antara lain, GPIB Pusat Daerah Bekasi (Marzuki Urmaini dan Muhayar), GPIB Daerah Ujung Malang (KH Noer Alie), GPIB Daerah Tambun (Angkut Abu Gozali, GPIB Kranji (M. Husein Kamaly) dan GPIB Cakung (Gusir) berdirinya kabupaten Bekasi Berdasarkan aturan hukum pada saat itu dan melihat kegigihan rakyat memperjuangkan aspirasinya untuk membentuk suatu pemerintahan tersendiri, setingkat Kabupaten, mulailah para tokoh dan rakyat Bekasi berjuang agar pembentukan tersebut dapat terealisasikan. Awal tahun 1950, para pemimpin rakyat diantaranya R. Soepardi, KH Noer Alie, Namin, Aminudin dan Marzuki Urmaini membentuk “Panitia Amanat Rakyat Bekasi”, dan mengadakan rapat raksasa di Alun-alun Bekasi (17 Januari1950), yang dihadiri oleh ribuan rakyat yang datang dari pelbagai pelosok Bekasi, dihasilkan beberapa tuntutan yang terhimpun dalam “Resolusi 17 Januari”, yang antara lain menuntut agar nama Kabupaten Jatinegara diubah menjadi Kabupaten Bekasi, tuntutan itu ditandatangani oleh Wedana Bekasi (A. Sirad) dan Asisten Wedana Bekasi (R. Harun). Usulan tersebut akhirnya mendapat tanggapan dari Mohammad Hatta, dan menyetujui penggantian nama “Kabupaten Jatinegara” menjadi “Kabupaten Bekasi”, persetujuan ini semakin kuat dengan dikeluarkannya Undang-undang No. 14 Tahun 1950 yang ditetapkan tanggal 8 Agustus 1950 tentang : Pembentukan Kabupaten-kabupaten di lingkungan Provinsi Jawa Barat, serta memperhatikan Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1950 tentang berlakunya undang-undang tersebut, maka Kabupaten Bekasi secara resmi terbentuk pada tanggal 15 Agustus 1950, dan berhak mengatur rumah tangganya sendiri, sebagaimana diatur oleh Undang-undang Pemerintah Daerah pada saat itu, yaitu UU No.22 Tahun 1948. Selanjutnya, ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Bekasi, bahwa tanggal 15 Agustus 1950 sebagai HARI JADI KABUPATEN. status ini dikukuhkan dengan UU Nomor 14 Tahun 1950 mengenai pembentukan Kabupaten Bekasi, dengan wilayah yang terdiri dari empat kewedanaan, 13 kecamatan dan 95 desa. Pada tahun 1960 kantor Kabupaten Bekasi berpindah dari Jatinegara ke kota Bekasi (Jl. Ir. H Juanda), yang kemudian pada tahun 1982 gedung perkantoran Pemda Kabupaten Bekasi kembali dipindahkan ke Jl. Ahmad Yani, Bekasi. Mulai tahun 2004,TERJADI PEMEKARAN Pemerintahan Kabupaten Bekasi dipindahkan ke Cikarang Pusat, Kota Deltamas dengan tujuan untuk memeratakan pembangunan di daerah timur bekasi.

SUMBER :